Senin, 20 September 2010

Langkah yang Menyuburkan Pohon Takwa

Oleh : Syamsu Hilal

Hati (qalb) manusia,
Itu ibarat lahan tempat bertanam dan jiwa (nafs) adalah petaninya.
Setiap petani bebas menanam apa saja yang disukai dan menguntungkan di lahan miliknya.
Dia bebas menentukan pupuk apa yang akan digunakan agar tanaman tumbuh subur.
Bersamaan dengan itu,
Dia juga bebas menggunakan pestisida apa saja untuk menjaga tanamannya dari gangguan hama dan penyakit.

Demikianlah tamsil manusia dengan amalnya.
Sejak lahir,
Di dalam setiap jiwa manusia, Allah SWT menyimpan dua benih, yaitu :

Benih Fujur (kefasikan) dan Benih Takwa (kebaikan).

Hal ini ditegaskan Allah SWT dalam QS Asy-Syams: 8-10,
"Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan merugilah orang yang mengotorinya".

Petani cerdas tentu saja akan menanam benih takwa di lahan kalbunya dan membiarkan benih fujur tumbuh kerdil dan merana.
Dia akan memupuk benih takwa itu dengan Alquran dan sunah sebagai hara utama.
Lalu menyiraminya dengan air hikmah, berupa ucapan dan perilaku para salafush shalih.

Bersamaan dengan itu,
Dia juga berusaha menjauhi segala bentuk maksiat agar tanaman terhindar dari hama dan penyakit.
"Dan tanah yang subur, tanamannya tumbuh baik dengan izin Allah, sebaliknya tanah yang gesang tanamannya tumbuh kerdil ...." (QS Al-A'raf [7]: 58).

Tanaman seperti inilah yang diumpamakan oleh Allah SWT dalam QS Ibrahim [14]: 24-25.
"Tidakkah engkau perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya menjulang ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan izin Rabbnya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat".

Betapa indah pohon takwa Rasulullah SAW.
Banyak orang melemparinya dengan batu, cacian, dan berbagai fitnah, tapi Rasul SAW selalu membalasnya dengan buah senyum dan kasih sayang.

Begitu pula dengan pohon takwa Abu Bakar Siddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib Radliyallahu anhum, dan para sahabat lainnya yang selalu berbuah akhlaqul karimah.
Mereka, generasi pertama Islam yang selalu menjadikan Alquran dan sunah sebagai referensi utama, hingga Aisyah RA menyebut akhlak Rasulullah SAW sebagai Khuluquhul Qur`an (akhlak Rasulullah adalah Alquran).

Bagimana dengan generasi Islam saat ini,
Apa yang menjadi referensi utama mereka dalam berucap dan bertindak?.
Pertanyaan inilah yang harus dijawab oleh para orang tua dan pemimpin Islam saat ini. Wallahua'lam.

Sumber : Republika Online "http://www.republika.co.id/"

Rabu, 15 September 2010

Pilih Senang atau Tenang

Oleh : M Baharun

Senang ataukah tenang yang diinginkan seseorang?,
Menurut Abu Hamid Al-Ghazali, orang yang senang (al-Sa'id) itu belum tentu tenang (al-Nafs al-Mutmainnah).
Misalnya,
Orang yang melakukan korupsi, tentu merasa senang karena mendapatkan harta dengan segera tanpa susah payah, dan dia tinggal menikmatinya saja. Tapi, apakah hati menjadi tenang dengan perolehan harta terlarang yang bukan haknya itu?.

Demikian pula,
Orang yang melakukan perselingkuhan, boleh jadi ia dapat mengenyam kenikmatan sesaat, tetapi apakah hatinya jadi tenang dan tenteram?.
Atau,
Seseorang yang mengonsumsi narkoba, mungkin dia bisa merasa senang dan bahagia untuk sementara. Akan tetapi, apa benar dia tidak dihantui perasaan takut?.

Jika sudah menyadari hal seperti ini,
Mengapa manusia itu berlaku zalim terhadap dirinya sendiri dan hanya mementingkan kenikmatan sesaat.
Padahal,
Mereka berani menanggung risiko ketidaktenangan dan ketidaktenteraman dalam hidupnya.

Kebahagiaan itu kenyataannya tidak bermula pada kesenangan, melainkan berangkat dari ketenangan.
Orang yang memiliki banyak uang pasti senang karena segala kebutuhannya tercukupi, tetapi uang tidak menjamin seseorang mendapatkan ketenangan hidup.

Seringkali kita temukan,
Orang kaya malah jadi bertambah cemas karena takut dan khawatir hartanya berkurang atau habis.
Siapa pun jika mendapatkan jabatan dan kedudukan prestisius menjadi senang, tapi adakah jabatan itu bisa membuat dia tenang dalam hidupnya?. Jawabnya pasti belum tentu! Jika begitu,

Mengapa kita tidak mementingkan ketenangan hidup ketimbang memulai kesenangan hidup?,
Karena ketenangan jiwa, insya Allah akan menghasilkan kesenangan dan kebahagiaan yang hakiki.

Ada adagium dalam dunia tasawuf yang patut untuk direnungkan.
"Lastu Aras Sa'adata Jam'a Malin, Walakin at_Taqiya Lahaiya as-Sa'idu"
(Saya tiada merasa bahagia jika berada dalam kekayaan harta, tapi takwa ini bahagia yang hakiki)

Dalam Alquran,
Banyak sekali ayat yang menerangkan tentang tenang dan manfaatnya.
"Orang tenang (mengikuti petunjuk Alquran) itu mendapat rahmat atau kasih-sayang Allah" (QS 7:204).
"Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan orang-orang beriman" (QS 9:26).
"Allah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang Mukmin supaya keimanan bertambah di samping keimanan mereka yang telah ada" (QS 48: 4 dan 18).

Ketenangan jiwa,
Niscaya akan menghilangkan rasa cemas hingga hidup menjadi ringan tanpa beban. Segala penyakit fisik pun akan hilang atau berkurang dengan sendirinya jika jiwa kita menjadi tenang.
Orang yang tenang akan dengan mudah mendapat kesenangan dan kebahagiaan. Sebagai orang yang beriman, sudahlah tentu kita akan memilih hidup tenang dahulu sebelum mendapatkan yang senang.

Rabu, 08 September 2010

Langkah-langkah Penting Menjaga Hati


Oleh : Arif Munandar Riswanto

Hati dalam bahasa Arab disebut dengan al-qalb, yang berarti bolak-balik.
Disebut demikian,
Karena hati adalah dunia abstrak (closed area), unik, dan berkembang (developmental).
Hati gampang berubah, sukar dibaca, senantiasa berkembang, dan pasang-surut.

Karena memiliki sifat seperti itu,
Maka hati harus dijaga dengan baik. Sebab, jika tidak dijaga, hati akan berubah menjadi hati yang sakit (al-qalb al-maridh).
Begitu banyak manusia yang memiliki pikiran cerdas, tetapi akhirnya menjadi orang hina hanya karena memiliki hati yang sakit.

Rasul bersabda,
"Dalam tubuh manusia ada segumpal daging, apabila ia baik, maka baik pula seluruh tubuhnya; dan jika ia rusak, maka rusak pula seluruh tubuhnya. Ketahuilah, itulah hati." (Al-Hadis).

Kecerdasan yang ada di dalam pikiran,
Bisa dikalahkan oleh kebusukan yang ada di dalam hati.
Orang seperti itu biasanya akan marah pada kebenaran dan senang pada kebatilan.
Dan,
Jika hal tersebut terjadi, maka itulah hati sedang sakit.
Sama seperti anggota tubuh lainnya, hati yang sakit bisa dilihat dari tiga hal.

Pertama,
Kemampuan indera yang ada di dalam hati akan hilang secara total.
Hati seperti ini akan menjadi buta, tuli, bisu, dan lumpuh. Ia tidak bisa membedakan antara kebenaran, kesesatan, ketakwaan, kemaksiatan, dan lain sebagainya.

Kedua,
Kemampuan indera yang ada di dalam hati menjadi lemah.
Padahal sebenarnya, kemampuan indera tersebut kuat. Sama seperti anggota tubuh lainnya, jika sedang dalam keadaan seperti ini, hati berarti butuh asupan gizi.

Ketiga,
Hati tidak bisa melihat sesuatu dalam bentuk yang sebenarnya.
Seperti melihat kebenaran menjadi kesesatan, kesesatan menjadi kebenaran, merasakan manis menjadi pahit, dan pahit menjadi manis.

Lalu,
Bagaimana menjaga hati agar tetap sehat?,
Ibnul Qayyim menjelaskan, agar hati bisa tetap sehat, ia bisa dilakukan dengan tiga cara;
menjaga kekuatan hati, melindungi hati dari hal-hal yang membahayakan, dan membuang zat-zat yang berbahaya bagi hati.

Kekuatan hati bisa didapatkan dengan iman.
Dan iman merupakan sumber kekuatan hati paling utama. Jika iman hilang, hati akan menjadi sakit.

Sedangkan untuk melindungi hati dari hal-hal yang membahayakan,
Bisa dilakukan dengan menjauhkan diri dari perbuatan dosa dan maksiat. Sebab,
Kedua hal ini yang dapat membuat hati menjadi sakit. Ia sama dengan racun yang jika dikonsumsi pasti akan membahayakan tubuh.

Terakhir,
Agar tetap sehat, zat-zat yang membahayakan hati harus dibuang.
Dan,
Cara paling efektif untuk membuang zat-zat yang berbahaya tersebut adalah dengan tobat dan istighfar.
Tobat dan istighfar adalah dua obat yang bisa membuang toksin di dalam hati. Ia bagaikan antibody yang bisa membuat hati tetap sehat.

Sumber : Republika Online "
http://www.republika.co.id/"

Rabu, 01 September 2010

WE NEED YOUR PARTICIPATION !!!

Assalammu'alaikum wr.wb

mbak-mbak, mas-mas, dan teman-teman semua, kami dari bidang Me-Kom kamiba butuh partisipasi kalian dalam rangka pembuatan buletin kedua kamiba. buletin yang kedua ini insya allah bekerja sama dengan ROHIS SMA N 1 Godean.

Nah, bagi yang pengen menyumbang tulisan, artikel, puisi, cerpen, opini, kirim-kirim salam, kritik dan saran, de el el, silahkan kirim ke alamat e-mail kami : kamiba.smago@yahoo.com
atau silahkan hubungi :
Anida : 085878757507
Kiky : 08562561730

paling lambat tanggal 13 september 2010 yaa..

hatur nuhun atas perhatiannya..
mari tetap semangat !!! :)

KAMIBA 2010-2012

Pengurus kamiba masa jabatan 2010-2012 adalah :
jeng..jeng...


Ketua Umum : Adhli
Ketua P2 : Oktava
Ketua Mentoring : Hari
Ketua Me-Kom : Rizky
Sekretaris : Khumaera
Bendahara : Annisa


Bidang P2 ( Pelesat Potensi )
Staff : Diska, Desintan, Eny, Anistri, Surya


Bidang Mentoring
Staff : Arfi, Imam, Ermita, Tarsini


Bidang Me-Kom ( Media dan Komunikasi )
Staff : Wisnu, Tiluk, Anida, Ristiani




May Allah swt bless our path,
keep on fight !
ganbatte kudasai ^^

Jalan Menuju Kebahagiaan Abadi


Sebuah kalimat bijak menyebutkan,
“Semua perjalanan adalah perjalanan kejiwaan”. Kita adalah jiwa yang sedang hidup di alam raga.
Menurut Teilhard de Chardin,
“We are not human beings having a spiritual experience, we are spiritual beings having a human experience”.
(Kita bukanlah manusia yang mengalami pengalaman-pengalaman spiritual, kita adalah makhluk spiritual yang mengalami pengalaman-pengalaman manusiawi. Manusia bukanlah “makhluk bumi” melainkan “makhluk langit”).

Menyandar spiritualitas kejiwaan sebagai sentral kehidupan manusia, Islam menekankan perlunya terus membina dan menjaga konstelasi dan integritas spiritualitas tersebut.
Sayangnya,
Sebagai makhluk spiritual kita kerap “terjebak” pada fisik, emosi, dan pikir, manusia kurang memperhatikan jati dirinya yang sejati.

Pada kondisi inilah Ramadhan dihadirkan oleh Allah SWT.
Bulan yang dijadikan sarana untuk kembali menemui dan mengasah jati diri sejati, spiritual.
Proses pengendalian diri sebagai inti dari puasa telah menempatkan manusia kembali pada posisinya yang tepat.
Melepaskan semua belenggu-belenggu fisik, emosi, dan pikiran yang kerap mengontaminasi spiritualitasnya.
Karena, sesungguhnya saat manusia mampu melepaskan diri dari ketertawanan fisik, emosi, dan pikir, maka ia seolah terlahir kembali dari rahim ibunya. Bersih tanpa noda sedikit pun

“Barangsiapa yang melaksanakan puasa dengan penuh keimanan dan penuh harap kepada Allah, niscaya diampuni dosa-dosanya di masa lalu”. (HR Bukhari dan Muslim).

Begitupun,
Bila puasa yang dilakukan hanya sebatas fisik semata, tidak mampu menelisik hingga ke relung-relung jiwa, maka ia tak akan memperoleh apa pun dari puasanya kecuali lapar dan dahaga semata. (HR An-Nasai).

Dalam konteks manajemen hidup,
Ramadhan memberikan banyak pelajaran. Di sini, kita mampu menemukan kesejatian diri. Menyambut kehadiran Ramadhan dengan suka cita, sebagaimana mengisinya dengan gembira dan penuh antuasias, sesungguhnya menjadi awal pembuka kebahagiaan abadi sebagai puncak kesuksesan diri yang dicari manusia.

Mampu memanfaatkan Ramadhan sebagai bagian ibadah terindah, berbagi yang terbaik, dan berjuang dengan sepenuh hati, merupakan mekanisme perjalanan jiwa menuju kesejatiannya. Menemukan diri yang sebenarnya. Itulah diri spiritual.

“Setiap amal anak Adam untuknya, kecuali puasa. Sesungguhnya itu untuk-Ku dan Aku yang akan mengganjarnya. Puasa itu adalah perisai. Jika datang hari puasa seseorang di antara kalian, maka janganlah ia berkata rafats dan jangan memaki. Jika ada orang memakinya atau memancing berkelahi, hendaklah ia berkata: 'Aku sedang berpuasa'. Demi Zat yang jiwa Muhammad di tangannya, sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa di sisi Allah lebih wangi daripada wangi misik. Orang yang berpuasa memiliki dua kebahagiaan: jika ia berbuka, ia berbahagia; dan jika ia bertemu Tuhannya, ia berbahagia karena puasanya.”
(HR Bukhari, Muslim, an-Nasai, Ibn Majah, dan Ahmad).