Ia tidak pernah berhenti memberikan cahaya Sekalipun orang-orang tidak mau memujinya Tidak pernah memberikan penghargaan kepadanya Ia tetap memberikan pencahayaan Bayangkan, apa yang akan dialami bumi Bila matahari tidak mau bercahaya
Anakku, janganlah kau putus asa Karena besok pagi matahari itu akan terbit kembali Songsonglah masa depan dengan semangat membara Tanpa kenal lelah dan pudar Karena dengannya kau akan menjadi mulia
Anakku, kau lihat matahari itu sangat tinggi Tetapi ia masih mau membantu bumi Karenanya, bila engkau kelak sedang di atas Janganlah lupa kepada yang di bawah Sebab kau akan semakin tinggi ketika kau selalu merendah
Anakku, matahari itu tidak lupa diri Sekalipun ia sibuk memberikan cahaya kepada semesta Ia juga memberikan cahaya pada dirinya Karenanya janganlah kau menjadi seperti lilin Yang rela membakar dirinya untuk pencahayaan Tetapi jadilah seperti matahari Yang memberikan cahaya bagi orang lain Juga memberikan cahaya bagi dirinya sendiri.
Hati (qalb) manusia, Itu ibarat lahan tempat bertanam dan jiwa (nafs) adalah petaninya. Setiap petani bebas menanam apa saja yang disukai dan menguntungkan di lahan miliknya. Dia bebas menentukan pupuk apa yang akan digunakan agar tanaman tumbuh subur. Bersamaan dengan itu, Dia juga bebas menggunakan pestisida apa saja untuk menjaga tanamannya dari gangguan hama dan penyakit.
Demikianlah tamsil manusia dengan amalnya. Sejak lahir, Di dalam setiap jiwa manusia, Allah SWT menyimpan dua benih, yaitu :
Benih Fujur (kefasikan) dan Benih Takwa (kebaikan).
Hal ini ditegaskan Allah SWT dalam QS Asy-Syams: 8-10, "Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan merugilah orang yang mengotorinya".
Petani cerdas tentu saja akan menanam benih takwa di lahan kalbunya dan membiarkan benih fujur tumbuh kerdil dan merana. Dia akan memupuk benih takwa itu dengan Alquran dan sunah sebagai hara utama. Lalu menyiraminya dengan air hikmah, berupa ucapan dan perilaku para salafush shalih.
Bersamaan dengan itu, Dia juga berusaha menjauhi segala bentuk maksiat agar tanaman terhindar dari hama dan penyakit. "Dan tanah yang subur, tanamannya tumbuh baik dengan izin Allah, sebaliknya tanah yang gesang tanamannya tumbuh kerdil ...." (QS Al-A'raf [7]: 58).
Tanaman seperti inilah yang diumpamakan oleh Allah SWT dalam QS Ibrahim [14]: 24-25. "Tidakkah engkau perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya menjulang ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan izin Rabbnya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat".
Betapa indah pohon takwa Rasulullah SAW. Banyak orang melemparinya dengan batu, cacian, dan berbagai fitnah, tapi Rasul SAW selalu membalasnya dengan buah senyum dan kasih sayang.
Begitu pula dengan pohon takwa Abu Bakar Siddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib Radliyallahu anhum, dan para sahabat lainnya yang selalu berbuah akhlaqul karimah. Mereka, generasi pertama Islam yang selalu menjadikan Alquran dan sunah sebagai referensi utama, hingga Aisyah RA menyebut akhlak Rasulullah SAW sebagai Khuluquhul Qur`an (akhlak Rasulullah adalah Alquran).
Bagimana dengan generasi Islam saat ini, Apa yang menjadi referensi utama mereka dalam berucap dan bertindak?. Pertanyaan inilah yang harus dijawab oleh para orang tua dan pemimpin Islam saat ini. Wallahua'lam.
Senang ataukah tenang yang diinginkan seseorang?, Menurut Abu Hamid Al-Ghazali, orang yang senang (al-Sa'id) itu belum tentu tenang (al-Nafs al-Mutmainnah). Misalnya, Orang yang melakukan korupsi, tentu merasa senang karena mendapatkan harta dengan segera tanpa susah payah, dan dia tinggal menikmatinya saja. Tapi, apakah hati menjadi tenang dengan perolehan harta terlarang yang bukan haknya itu?.
Demikian pula, Orang yang melakukan perselingkuhan, boleh jadi ia dapat mengenyam kenikmatan sesaat, tetapi apakah hatinya jadi tenang dan tenteram?. Atau, Seseorang yang mengonsumsi narkoba, mungkin dia bisa merasa senang dan bahagia untuk sementara. Akan tetapi, apa benar dia tidak dihantui perasaan takut?.
Jika sudah menyadari hal seperti ini, Mengapa manusia itu berlaku zalim terhadap dirinya sendiri dan hanya mementingkan kenikmatan sesaat. Padahal, Mereka berani menanggung risiko ketidaktenangan dan ketidaktenteraman dalam hidupnya.
Kebahagiaan itu kenyataannya tidak bermula pada kesenangan, melainkan berangkat dari ketenangan. Orang yang memiliki banyak uang pasti senang karena segala kebutuhannya tercukupi, tetapi uang tidak menjamin seseorang mendapatkan ketenangan hidup.
Seringkali kita temukan, Orang kaya malah jadi bertambah cemas karena takut dan khawatir hartanya berkurang atau habis. Siapa pun jika mendapatkan jabatan dan kedudukan prestisius menjadi senang, tapi adakah jabatan itu bisa membuat dia tenang dalam hidupnya?. Jawabnya pasti belum tentu! Jika begitu,
Mengapa kita tidak mementingkan ketenangan hidup ketimbang memulai kesenangan hidup?, Karena ketenangan jiwa, insya Allah akan menghasilkan kesenangan dan kebahagiaan yang hakiki.
Ada adagium dalam dunia tasawuf yang patut untuk direnungkan. "Lastu Aras Sa'adata Jam'a Malin, Walakin at_Taqiya Lahaiya as-Sa'idu" (Saya tiada merasa bahagia jika berada dalam kekayaan harta, tapi takwa ini bahagia yang hakiki)
Dalam Alquran, Banyak sekali ayat yang menerangkan tentang tenang dan manfaatnya. "Orang tenang (mengikuti petunjuk Alquran) itu mendapat rahmat atau kasih-sayang Allah" (QS 7:204). "Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan orang-orang beriman" (QS 9:26). "Allah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang Mukmin supaya keimanan bertambah di samping keimanan mereka yang telah ada" (QS 48: 4 dan 18).
Ketenangan jiwa, Niscaya akan menghilangkan rasa cemas hingga hidup menjadi ringan tanpa beban. Segala penyakit fisik pun akan hilang atau berkurang dengan sendirinya jika jiwa kita menjadi tenang. Orang yang tenang akan dengan mudah mendapat kesenangan dan kebahagiaan. Sebagai orang yang beriman, sudahlah tentu kita akan memilih hidup tenang dahulu sebelum mendapatkan yang senang.
Hati dalam bahasa Arab disebut dengan al-qalb, yang berarti bolak-balik. Disebut demikian, Karena hati adalah dunia abstrak (closed area), unik, dan berkembang (developmental). Hati gampang berubah, sukar dibaca, senantiasa berkembang, dan pasang-surut.
Karena memiliki sifat seperti itu, Maka hati harus dijaga dengan baik. Sebab, jika tidak dijaga, hati akan berubah menjadi hati yang sakit (al-qalb al-maridh). Begitu banyak manusia yang memiliki pikiran cerdas, tetapi akhirnya menjadi orang hina hanya karena memiliki hati yang sakit.
Rasul bersabda, "Dalam tubuh manusia ada segumpal daging, apabila ia baik, maka baik pula seluruh tubuhnya; dan jika ia rusak, maka rusak pula seluruh tubuhnya. Ketahuilah, itulah hati." (Al-Hadis).
Kecerdasan yang ada di dalam pikiran, Bisa dikalahkan oleh kebusukan yang ada di dalam hati. Orang seperti itu biasanya akan marah pada kebenaran dan senang pada kebatilan. Dan, Jika hal tersebut terjadi, maka itulah hati sedang sakit. Sama seperti anggota tubuh lainnya, hati yang sakit bisa dilihat dari tiga hal.
Pertama, Kemampuan indera yang ada di dalam hati akan hilang secara total. Hati seperti ini akan menjadi buta, tuli, bisu, dan lumpuh. Ia tidak bisa membedakan antara kebenaran, kesesatan, ketakwaan, kemaksiatan, dan lain sebagainya.
Kedua, Kemampuan indera yang ada di dalam hati menjadi lemah. Padahal sebenarnya, kemampuan indera tersebut kuat. Sama seperti anggota tubuh lainnya, jika sedang dalam keadaan seperti ini, hati berarti butuh asupan gizi.
Ketiga, Hati tidak bisa melihat sesuatu dalam bentuk yang sebenarnya. Seperti melihat kebenaran menjadi kesesatan, kesesatan menjadi kebenaran, merasakan manis menjadi pahit, dan pahit menjadi manis.
Lalu, Bagaimana menjaga hati agar tetap sehat?, Ibnul Qayyim menjelaskan, agar hati bisa tetap sehat, ia bisa dilakukan dengan tiga cara; menjaga kekuatan hati, melindungi hati dari hal-hal yang membahayakan, dan membuang zat-zat yang berbahaya bagi hati.
Kekuatan hati bisa didapatkan dengan iman. Dan iman merupakan sumber kekuatan hati paling utama. Jika iman hilang, hati akan menjadi sakit.
Sedangkan untuk melindungi hati dari hal-hal yang membahayakan, Bisa dilakukan dengan menjauhkan diri dari perbuatan dosa dan maksiat. Sebab, Kedua hal ini yang dapat membuat hati menjadi sakit. Ia sama dengan racun yang jika dikonsumsi pasti akan membahayakan tubuh.
Terakhir, Agar tetap sehat, zat-zat yang membahayakan hati harus dibuang. Dan, Cara paling efektif untuk membuang zat-zat yang berbahaya tersebut adalah dengan tobat dan istighfar. Tobat dan istighfar adalah dua obat yang bisa membuang toksin di dalam hati. Ia bagaikan antibody yang bisa membuat hati tetap sehat.
mbak-mbak, mas-mas, dan teman-teman semua, kami dari bidang Me-Kom kamiba butuh partisipasi kalian dalam rangka pembuatan buletin kedua kamiba. buletin yang kedua ini insya allah bekerja sama dengan ROHIS SMA N 1 Godean.
Nah, bagi yang pengen menyumbang tulisan, artikel, puisi, cerpen, opini, kirim-kirim salam, kritik dan saran, de el el, silahkan kirim ke alamat e-mail kami : kamiba.smago@yahoo.com atau silahkan hubungi : Anida : 085878757507 Kiky : 08562561730
paling lambat tanggal 13 september 2010 yaa..
hatur nuhun atas perhatiannya.. mari tetap semangat !!! :)
Sebuah kalimat bijak menyebutkan, “Semua perjalanan adalah perjalanan kejiwaan”. Kita adalah jiwa yang sedang hidup di alam raga. Menurut Teilhard de Chardin, “We are not human beings having a spiritual experience, we are spiritual beings having a human experience”. (Kita bukanlah manusia yang mengalami pengalaman-pengalaman spiritual, kita adalah makhluk spiritual yang mengalami pengalaman-pengalaman manusiawi. Manusia bukanlah “makhluk bumi” melainkan “makhluk langit”).
Menyandar spiritualitas kejiwaan sebagai sentral kehidupan manusia, Islam menekankan perlunya terus membina dan menjaga konstelasi dan integritas spiritualitas tersebut. Sayangnya, Sebagai makhluk spiritual kita kerap “terjebak” pada fisik, emosi, dan pikir, manusia kurang memperhatikan jati dirinya yang sejati.
Pada kondisi inilah Ramadhan dihadirkan oleh Allah SWT. Bulan yang dijadikan sarana untuk kembali menemui dan mengasah jati diri sejati, spiritual. Proses pengendalian diri sebagai inti dari puasa telah menempatkan manusia kembali pada posisinya yang tepat. Melepaskan semua belenggu-belenggu fisik, emosi, dan pikiran yang kerap mengontaminasi spiritualitasnya. Karena, sesungguhnya saat manusia mampu melepaskan diri dari ketertawanan fisik, emosi, dan pikir, maka ia seolah terlahir kembali dari rahim ibunya. Bersih tanpa noda sedikit pun
“Barangsiapa yang melaksanakan puasa dengan penuh keimanan dan penuh harap kepada Allah, niscaya diampuni dosa-dosanya di masa lalu”. (HR Bukhari dan Muslim).
Begitupun, Bila puasa yang dilakukan hanya sebatas fisik semata, tidak mampu menelisik hingga ke relung-relung jiwa, maka ia tak akan memperoleh apa pun dari puasanya kecuali lapar dan dahaga semata. (HR An-Nasai).
Dalam konteks manajemen hidup, Ramadhan memberikan banyak pelajaran. Di sini, kita mampu menemukan kesejatian diri. Menyambut kehadiran Ramadhan dengan suka cita, sebagaimana mengisinya dengan gembira dan penuh antuasias, sesungguhnya menjadi awal pembuka kebahagiaan abadi sebagai puncak kesuksesan diri yang dicari manusia.
Mampu memanfaatkan Ramadhan sebagai bagian ibadah terindah, berbagi yang terbaik, dan berjuang dengan sepenuh hati, merupakan mekanisme perjalanan jiwa menuju kesejatiannya. Menemukan diri yang sebenarnya. Itulah diri spiritual.
“Setiap amal anak Adam untuknya, kecuali puasa. Sesungguhnya itu untuk-Ku dan Aku yang akan mengganjarnya. Puasa itu adalah perisai. Jika datang hari puasa seseorang di antara kalian, maka janganlah ia berkata rafats dan jangan memaki. Jika ada orang memakinya atau memancing berkelahi, hendaklah ia berkata: 'Aku sedang berpuasa'. Demi Zat yang jiwa Muhammad di tangannya, sesungguhnya bau mulut orang yang berpuasa di sisi Allah lebih wangi daripada wangi misik. Orang yang berpuasa memiliki dua kebahagiaan: jika ia berbuka, ia berbahagia; dan jika ia bertemu Tuhannya, ia berbahagia karena puasanya.” (HR Bukhari, Muslim, an-Nasai, Ibn Majah, dan Ahmad).
KAMIBA (keluarga Muslim Baitussalam) adalah sebuah organisasi yang dibentuk oleh alumni Rohis Baitussalam SMA Negeri 1 Godean pada tanggal 12 Sepetember 1999. KAMIBA memposisikan diri sebagai sahabat peningkatan pembelajaran pelajar muslim, yang kegiatannya berfokus pada pengembangan potensi pelajar muslim. KAMIBA berkarakteristik LION (Legal formal, Islamic solutions, Orientasi pelajar muslim, Non profit). Sejak pertama kali dibentuk, kegiatan KAMIBA terfokus di SMA Negeri 1 Godean, namun kini KAMIBA sedang berusaha untuk melebarkan sayap dakwahnya kesekolah lain, khususnya diwilayah Sleman Barat. VISI
Membentuk pribadi pelajar muslim yang unggul, berwawasan Islam, mengusai life skill dan mempunyai semangat beramal soleh.
MISI Mengembangkan kualitas pribadi pelajar muslim melalui pendekatan ilmiah dan populer dengan menggunakan metode learning by doing yang menyenangkan.
MOTTO Profesional dalam mencari Ridho Allah
Produk dan layanan Tim trainer KAMIBA diantaranya adalah: JENIS PELATIHAN MATERI DESKRIPSI PELATIHAN
Training Kepemimpinan dan Keorganisasian Leadership Followership
Team building Perancangan kegiatan Pelatihan ini bertujuan untuk membekali kepengurusan baru sebuah organisasi dengan kemampuan dasar keorganisasian.
Achievement Motivation Training Team Building
Interpersonalship
Tafakur Alam Pelatihan berbentuk outbond dialam terbuka untuk mensolidkan antar anggota organisasi, cocok bagi sebuah organisasi yang sedang lesu dan tidak kompak.
Learning Skill Gaya belajar Power reading
Mind mapping Pelatihan ini ditujukan bagi pelajar yang ingin meningkatkan kemampuan belajarnya secara maksimal
Advanced Thinking Skill Berfikir kreatif
Berfikir kritis Berfikir sinergis Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan dalam menyelesaikan berbagai permasalahan yang sedang atau akan dihadapi oleh pelajar.
Leadership Attitude* Leadership Rapat efektif Interpersonalship Perancangan kegiatan Ditujukan untuk pemimpin suatu organisasi, seperti ketua OSIS, ketua Rohis atau koordinator bidang/seksi untuk meningkatkan kinerja organisasi. Super Muslim Perubahan lingkungan
Pengembangan pribadi
Manajeman waktu
Manajeman konflik
Komunikasi Pelatihan ini bagi setiap pelajar yang ingin melejitkan atau meningkatkan potensi yang dimilikinya untuk menghadapi kerasnya persaingan diera globalisasi. ESQ Power* Zero mind process
Mental building
Personal strengh Social strength Menggabungkan antara potensi spiritual (SQ) dan kemampuan mengelola emosi (EQ) untuk membentuk pribadi muslim dengan potensi luar biasa yang berpegang teguh pada ajaran Islam
*Materi dan konsep pelatihan masih dalam penyempurnaan Tim Trainer KAMIBA menggunakan metode learning by doing dalam menyampaikan materi pelatihan. Pelatihan diberikan dalam bentuk games, experiental learning, case study, lectured, discussion dan role play sehingga tidak monoton dan membosankan. Untuk informasi dan profil yang lebih lengkap, silahkan kunjungi website kami.
Alhamdulillah, semua panitia dan tim Trainer bisa berucap syukur karena dari kesan dan pesan tertulis, hampir semua peserta menilai kegiatan ini sangat menarik dan menyenangkan, namun juga peserta merasa makanannya kurang banyak dan kurang tidur karena sebagian waktu tidur dipakai untuk Workshop. Tidak ada gading yang tak retak, moga pelatihan Rohis tahun depan lebih baik lagi. Amin…
Untuk menjaga privasi, nama penulis tidak dicantumkan. komentar dari tim Trainer KAMIBA dicetak tebal miring. P = pesan dan K = kesan. Karena keterbatasan ruang, tidak semua pesan dan kesan dapat ditampilkan (afwan yo…)
P: Piye kang! Top banget koq [O… jelas! Kamibe pancen Oye!]
K: Lumayan
K: Banyak nyamuk, kedinginan, lelah, kurang tidur. Kok nggak ada makan pagi? [iyo, kok ga ono yo??? Coba tanya panitia]
P: Semoga sukses untuk ketua Rohis yang baru [pengurus lainya juga moga sukses]
K: Acaranya asyik lho
P: Waktu untuk tidur sebaiknya ditambah agar siswa tidak mengantuk. Acaranya dibuat lebih menarik lagi. Oke! [Oke dech!]
K: Mendapatkan pengalaman dalam berorganisasi Rohis dan menyenangkan
P: Saya mohon pembekalannya jangan terlalu rumit dan capek, tapi dah bagus kok! [Mosok sih rumit?].Untuk semua anggota lama maupun baru, Rohis dan alumni, saya mohon bantuannya dalam bentuk apapun Allahuakbar! [Oke dech nanti tàk bantuin makan he…he…]
K: Sangat menyenangkan dan tim trainer alumni semua baik [ehm… kami orangnya emang baik hati dan tidak sombong J]
P: Lebih tepat waktu
K: Kurang tidur
P: Lain kali kalo ada acara seperti ini lagi biar bayar lebih ga’ pha-pha yang penting konsumsinya bertambah banyak isinya [setuju! Apalagi kalo lauknya juga nambah]
K: Kok dari dulu makannya hanya 1X tapi tetap happy kok… [padahal kata bu dokter makan itu khan 3X imbuhnya ya?]
P: Semoga panitia dapat diterima disisi-Nya serta dapat menjadi muslim yang sejati, amin… [???]
P: Snack diperbanyak aza! Soal bayare gampang [kalo trainernya juga dibayar piye?]
K: Tidak dapat diungkapkan dg kata-kata tapi pokoke sip…! [kalo sip dibayar lho…]
P: Pertahankan, wis apik bos!!! [better]
K: Wetengku ngeleh!! [podho!]
K: Permainannya asyik banget. Makanannya enak tapi kurang banyak [kok ga imbuh?] Tidurnya ga enak dan bayak nyamuk [gampang! bawa obat nyamuk aza] Rohis Te O Pe Be Ge Te deh [tim trainernya tooop banget……]
P: Untuk tahun yang akan datang gemenya dibuat yang lebih menarik. Kalo bisa boboknya jangan dilantai dong [dijubin aza ya…] Makanan yang banyak dong!
K: Saat mengikuti acara ini ada hal menarik karena banyak permainan. Tapi juga ngebikin boring karena lama nunggunya. [maklumlah masih Pentium 1, loading gamenya lama]
P: Kegiatan diperbanyak. Usahakan setiap kegiatan tidak usah bayar dan usahakan juga mendapat subsidi sekolah [uwenake...]
K: Kegitan ini sangat menyenangkan. Aku dapat pengalaman dari kegiatan ini
K: Pada acara kali ini sepertinya kurang seru daripada tahun lalu [mosok sich ???]
P: Kalo pagi jangan hanya dikasih snack lebih baik nasi karena semalam sudah ikuti banyak kegiatan
P: Acaranya asyik tapi mbok ya waktu tidurnya jangan diKKN. Konsumsinya lumayan, but sambal terlalu pedas banget dan lumpianya kurang sip [seksi konsumsi, sambalnya kepedasan tuh...]
K: Permainannya keren banget [tim trainernya lebih keren lagiJ], boleh dong ditambah lagi . Tambah teman dan kenalan
P: Semoga untuk tahun berikutnya lebih baik Oce!!! (Oce bos!)
Good Luck for Ma’ruf
K: sangat lelah [sama] Udah kompak kok [itu yang kami harapkan] Emh… KAMIBA-nya lumayan menyejukkan [sejuk mana dengan kipas angin?]
P: Makannya jangan sesudah isya’ [dah laper ya]. Mbok ya o…o… diadakan renungan malam [usul yang bagus]. Kegiatan semalam sebaiknya sedikit dipotong waktunya [maksudnya disunat???] Pembicara besok lagi yang solid ya...a...a...!
K: Capek, merasa nambah ilmu dan pengalaman
P: Kegiatan lebih menitik beratkan pada keberanian ada uji nyalinya. [kalo pengen uji nyali undang aza Hari Panca bukan Kamiba!] Tepat waktu, jangan molor [panitia... trainer... tuh jangan molor!]
P: Supaya kekompakan dan kerja sama Rohis tetap dijaga.
K: Sungguh menyenangkan berada didalam Rohis [baru tahu ya…]
K: Sangat menyenangkan dan mengasyikkan, menarik, lucu, senang. [helmnya jadi ga muat nih!J]
P: Agar lebih ditingkatkan lagi kinerja Rohis agar lebih menyenangkan dan tidak membosankan [ayo para pengurus Rohis…kretif…kretif…kretif…!!!]
K: Ikut Rohis itu asyik walaupun agak melelahkan saat pembekalan. Kakak yang membimbing juga sangat ramah dan baik [ga cuma ramah dan baik aza, kami juga cakep lho…]
P: Supaya Rohis lebih maju. Agar para mantan Rohis selalu membimbing
P: Kegiatan-kegiatan yang telah direncanakan diharapkan dapat terlaksana. Meminta partisipasi semuanya untuk menjaga kebersihan masjid [ayo jaga kebersihan masjid kita!!!]
K: Saya senang dapat bergabung dalam Rohis juga kegiatan yang dilakukan semalam, saya sangat lelah.
K: Saya sangat senang sekali dengan kegiatan ini
P: Kegiatannya ditingkatkan. Untuk Rohis perpustakannya dibudidayakan [koleksinya juga ditambah dong!]. Jangan molor dong!