Rabu, 16 Februari 2011

Demo Spektakuler Ala Mesir


dakwatuna.com – Cairo, Demo Spektakuler. Itulah kira-kira ungkapan yang tepat untuk menggambarkan demo yang terjadi di Mesir. Karena merupakan demo terbesar yang pernah ada di seluruh dunia, berlangsung dalam waktu yang cukup lama, 18 hari berturut-turut, dan terjadi di seluruh penjuru Mesir.

Ada kekuatan besar yang mengorganisir dibalik gerakan rakyat tersebut. Puluhan juta rakyat mesir dari berbagai ragam agama, profesi, jenis kelamin mampu dimobilisasi dengan sangat rapi. Ada yang bertugas untuk suplai logistic, ada yang menyiapkan informasi terbaru, ada yang bertugas keamanan, ada yang menjadi orator, ada mengirim berita ke berbagai media massa, ada juga kelompok yang membersihkan sampah-sampah di jalanan… dst.

Bahkan ada kelompok-kelompok yang menjaga tempat-temapt ibadah, khususnya gereja selama 24 jam, agar tidak dirusak oleh pemerintah, namun pelakunya dialamatkan kepada para pendemo.

Pada kesmepatan lain, pemerintah dengan sengaja membebaskan ratusan nara pidana kriminal, namun dengan syarat, mereka harus melakukan pengkrusakan di jalanan, fasilitas umum, juga bentrok dengan pendemo. Tapi usaha itu bisa diantisipasi oleh pendemo, ketika ada sedikit profokator, salah satu di antara mereka saling mengingatkan… “Tsaurah salimah atau intifadhah salimah, atau uangakapan singkat, salimah salimah salimah… silmiyah silmiyah silmiyah” yang maksudnya bahwa gerakan mereka damai, tidak boleh ditunggangi oleh anasir-anasir anarkis.

Bahkan militer pun tidak bisa menghalau dan membubarkan pendemo, padahal militer Mesir terkenal sangat tegas dan dipersenjatai dengan lengkap. Ribuan senjata berat, tank-tank dikerahkan di jalan-jalan, namun mereka juga tidak bisa berbuat banyak. Sebab, para pemuda, para pendemo berlaku simpatik kepada militer, para pemuda itu tidur di bawah, di depan, di samping dan di belakang tank-tank, bahkan di roda tank-tank tersebut. Militer tidak bisa berkutik, justeru mereka turut serta dalam barisan para demonstran.

Ini yang menyebakan AS dan Israel tidak bisa ikut campur, meski kapal perang dengan kekuatan 800 tentara sudah merapat di lautan Mesir.

Luapan kegembiraan sontak memenuhi seluruh penjuru Mesir, ketika mendengar pengunduran diri Hosni Mubarak. Di Medan Tahrir, di Istana Kepresidenan, di gedung MPR, di stasiun televisi pemerintah dan di jalan-jalan seluruh penjuru Mesir, para demonstran dan masyarakat menyambut turunnya pemimpin diktator itu dengan sujud syukur, saling berjabat tangan, saling mengucapkan selamat, derai air mata, dan rasa haru menyatu.

People power, reformasi damai, intifadhah ummah, tsaurah salimah wa silmiyah telah menuai hasil, berkat kekuatan besar di Mesir. Tanyakan kepada rakyat Mesir, siapa kekuatan besar itu? Dan tentu berkat campur tangan Allah swt. dari awal dan akhir. “Wallahu ghaalibun alaa amrihii walaakinna aktsarannaasi laa ya’lamuun” (ut)

http://gus-ulis.blogspot.com / http://www.facebook.com/?ref=home#!/gus.ulis

Kamis, 20 Januari 2011

Dr. Attabiq Luthfi, MA Pemimpin yang Agamawan dan Negarawan


Assalamualaikum smua ! Kali ini kamiba menghadirkan artikel dari dakwatuna, yang sekiranya sangat cocok dengan keadaan negara kita di akhir-akhir ini. Yaitu soal kepemimpinan, ok langsung aja cekidot! 

dakwatuna.com – “Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin  yang memberi petunjuk dengan perintah Kami, dan telah Kami wahyukan kepada mereka  untuk senantiasa mengerjakan kebajikan, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu mengabdi.(QS. Al-Anbiya’: 73)

Ayat ini berbicara pada tataran ideal tentang sosok pemimpin yang akan memberikan dampak kebaikan dalam kehidupan rakyat secara keseluruhan, seperti yang ada pada diri para nabi manusia pilihan Allah. Karena secara korelatif, ayat-ayat sebelum dan sesudah ayat ini dalam konteks menggambarkan para nabi yang memberikan contoh keteladanan dalam membimbing umat ke jalan yang mensejahterakan umat lahir dan bathin. Tidak berlebihan jika dikatakan bahwa ayat ini merupakan landasan prinsip dalam mencari figur pemimpin ideal yang akan memberi kebaikan dan keberkahan bagi bangsa dimanapun dan kapanpun.

Ayat yang berbicara tentang kriteria pemimpin yang ideal yang senada dengan ayat di atas adalah surah As-Sajdah: 24: “Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah kami ketika mereka sabar dan adalah mereka meyakini ayat-ayat Kami”. Kesabaran yang dimaksud dalam ayat ini yang menjadi pembeda dengan ayat Al-Abiya’ adalah kesabaran dalam menegakkan kebenaran dengan tetap komitmen menjalankan perintah dan meninggalkan larangan Allah. Tentu bagi seorang pejabat tinggi, tetap komitmen dengan kebenaran membutuhkan mujahadah dan kesabaran yang jauh lebih besar karena akan berdepan dengan pihak yang justru menginginkan tersebarnya kebathilan dan kemaksiatan di tengah-tengah umat.

Menurut Ibnu Katsir dalam Tafsir Al-Qur’an Al-Adhim, ciri utama yang disebutkan di awal kedua ayat yang berbicara tentang kepemimpinan ideal adalah bahwa para pemimpin itu senantiasa mengajak rakyatnya kepada jalan Allah dan kemudian secara aplikatif mereka memberikan keteladanan dengan terlebih dahulu mencontohkan pengabdian dalam kehidupan sehari-hari yang dicerminkan dengan menegakkan shalat dan menunaikan zakat, sehingga mereka termasuk kelompok ‘abid’ yang senantiasa tunduk dan patuh mengabdi kepada Allah swt dengan merealisasikan ajaran-ajaranNya yang mensejahterakan.

‘Wakanu Lana Abidin bukan Wakanu Abidin’ merupakan penegasan bahwa perbuatan baik yang mereka perbuat lahir dari rasa iman kepada Allah dan jauh dari kepentingan politis maupun semata-mata malu dengan jabatannya. Maka kata ‘lana (hanya kepada Kami)’ adalah batasan bahwa hanya kepada dan karena Allah mereka berbuat kebaikan selama masa kepemimpinannya.

Asy-Syaukani dalam Tafsir Fathul Qadir menambahkan bahwa kriteria pemimpin yang memang harus ada adalah keteladanan dalam kebaikan secara universal sehingga secara eksplisit Allah menegaskan tentang mereka: Telah Kami wahyukan kepada mereka  untuk senantiasa mengerjakan beragam kebajikan. Fi’lal khairat yang senantiasa mendapat bimbingan Allah adalah beramal dengan seluruh syariat Allah secara integral dan paripurna dalam seluruh segmen kehidupan.

Yang sangat menarik untuk dicermati secara redaksional adalah pilihan kata ‘aimmah’ dalam kedua ayat di atas. Kepemimpinan umumnya menggunakan terminologi khalifah atau Amir. Tentu pilihan kata tersebut bukan semata-mata untuk memenuhi aspek keindahan bahasa Al-Qur’an sebagai bagian dari kemu’jizatan al-qur’an, tetapi lebih dari itu merupakan sebuah isyarat tentang sosok pemimpin yang sesungguhnya diharapkan, yaitu sosok pemimpin dalam sebuah negara atau masyarakat idealnya adalah juga layak menjadi pemimpin dalam kehidupan beragama bagi mereka. Mereka bukan hanya tampil di depan dalam urusan dunia, tetapi juga tampil di barisan terdepan dalam urusan agama. Inilah yang sering diistilahkan dengan agamawan yang negarawan atau negarawan yang agamawan.

Dan memang sejarah kesuksesan kepemimpinan terdahulu yang berdampak pada kebaikan dan kesejahteraan masyarakatnya seperti kepemimpinan di era Rasulullah dan para sahabatnya adalah bahwa pemimpin negara di masa itu juga pada masa yang sama adalah pemimpin shalat. Tidak pernah terjadi, bahwa pemimpin Negara saat itu hanya memiliki kualifikasi kepemimpinan dalam memenej negara, tetapi juga dalam memelihara dan mempertahankan kehidupan beragama umat.  Karena urusan duniawi dan ukhrawi sesungguhnya merupakan satu kesatuan yang sinergis dalam totalitas ajaran Islam. Perhatian pemimpin yang parsial pada salah satu aspek tertentu menunjukkan minimnya atau ketidak mampuannya menjadi ‘imam’ seperti yang diisyaratkan oleh kedua ayat kunci di atas.

Disini, mencari sosok pemimpin ideal memang bukan pekerjaan mudah atau instan, tetapi merupakan kerja serius dan kontinyu dalam bingkai pembinaan yang berjalan baik, sehingga stok kepemimpinan tidak pernah langka atau tidak tersedia. Maka  aspek kepemimpinan sangat terkait erat dengan aspek pembinaan (kaderisasi) yang harus dikerjakan secar serius dan kontinyu. Pemimpin yang lahir dari sebuah proses pembinaan yang baik, tentu jauh lebih baik daripada pemimpin yang lahir secara instan karena popularitas, kedekatan maupun faktor keturunan dan lain sebagainya.

Dalam pepetah Arab disebutkan:

Tidaklah pemimpin-pemimpin itu melainkan ibarat kotak-kotak yang tertutup rapat

Tidak lain kuncinya adalah pengalaman (aktifitas kehidupan sehari-hari).

Pepatah ini merupakan sebuah rumusan dalam mencari figur pemimpin. Track record merupakan kunci membuka keperibadian seorang pemimpin; bagaimana shalatnya, amalnya, kiprahnya, kinerjanya dan kehidupan sehari-harinya bersama keluarga, masyarakat dan sebagainya yang sangat layak untuk dijadikan parameter untuk mengukur kelayakan seseorang untuk menjadi pemimpin dalam semua levelnya, apalagi pemimpin dalam skala nasional.. Sehingga seorang Umar bin Khatab begitu sangat selektif dalam memilih atau mengangkat pejabat yang akan membantunya dalam mensukseskan kepemimpinanya secara kolektif. Beliau hanya akan mengangkat pejabat yang dikenal kebaikannya secara umum. Bahkan Umar pernah marah kepada sahabat yang mengangkat pejabat dari orang yang tidak dikenalnya. Umar bertanya memastikan pengenalannya terhadap seseorang yang diangkatnya: “Sudahkah kamu pergi bersamanya? Sudahkah kamu bersilaturahmi ke rumahnya? Sudahkah kamu berbisnis dengannya? Dan sederetan pertanyaan lain yang membuka sosok pejabat yang akan dilantiknya tersebut”.

Demikian, dalam Islam, melahirkan kepemimpinan merupakan amal puncak yang harus diberi perhatian besar karena  fungsi kepemimpinan dalam Islam berdasarkan ‘Siyasah Syar’iyyah’ adalah Hirasatud Din (memelihara dan mempertahankan ajaran agama) dan Siyasatud Dunya (merancang strategi untuk kebaikan duniawi). Maka membangun kebaikan sebuah masyarakat atau bangsa harus diawali dengan menciptakan para pemimpin dalam seluruh levelnya yang shalih yang akan menyebarkan kebaikan di tengah-tengah masyarakat mereka.

Abul Hasan Al-Mawardi dalam buku politiknya ‘Al-Ahkam As-Sulthaniyah’ menegaskan bahwa mengangkat dan menegakkan kepemimpinan merupakan kewajiban agama yang bersifat kifa’i yang menuntut keterlibatan semua pihak untuk merealisasikan kepemimpian yang benar sesuai dengan panduan Islam dan memberi kemaslahatan serta kesejahteraan bagi seluruh komponen umat. Kewajiban menegakkan kepemimpinan sama dengan kewajiban jihad dan menuntut ilmu. Jika sudah ada yang memegang tampuk kepemimpinan dari mereka yang layak untuk itu maka gugurlah kewajiban atas semua umat. Namun jika belum ada, maka kewajiban tetap berlaku atas semua imam sampai terbentuknya kepemimpinan. Beliau menukil sebuah hadits dari Abu Hurairah tentang kemungkinan terjadinya kepemimpinan pasca Rasulullah dan sikap yang harus ditunjukkan oleh umat terhadap model kepemimpinan tersebut:

وَرَوَى هِشَامُ بْنُ عُرْوَةَ عَنْ أَبِي صَالِحٍ عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : { سَيَلِيكُمْ بَعْدِي وُلَاةٌ فَيَلِيكُمْ الْبَرُّ بِبِرِّهِ ، وَيَلِيكُمْ الْفَاجِرُ بِفُجُورِهِ ، فَاسْمَعُوا لَهُمْ وَأَطِيعُوا فِي كُلِّ مَا وَافَقَ الْحَقَّ ، فَإِنْ أَحْسَنُوا فَلَكُمْ وَلَهُمْ ، وَإِنْ أَسَاءُوا فَلَكُمْ وَعَلَيْهِمْ

Hisyam bin Urwah meriwayatkan dari Abu Shalih dari Abu Hurairah bahwasanya Rasulullah saw bersabda: “Akan datang sepeninggalku beberapa pemimpin untuk kalian. Ada seorang yang baik yang memimpin kalian dengan kebaikan, namun ada juga pemimpin yang buruk yang memimpin dengan kemaksiatan. Maka hendaklah kalian tetap mendengar dan taat pada setiap yang menepati kebenaran. Karena jika mereka baik, maka kebaikan itu untuk kalian dan untuk mereka. Namun jika mereka buruk, maka keburukan itu hanya untuk mereka”.

Tentu, kita masih menanggung beban kewajiban kifa’i / kolektif untuk melahirkan sosok pemimpin yang berfungsi untuk merealisasikan hirasut din dan siyasatud dunya, sehingga kehadiran pemimpin yang agamawan sekaligus negarawan merupakan kata kunci yang disodorkan oleh Allah dalam kedua ayat di atas untuk membawa masyarakat dan bangsa mencapai ’Baldatun Thoyyibatun Wa Rabbun Ghafur’. Namun tetap yakin bahwa harapan kepemimpinan itu masih ada dan akan terus ada dengan izin Allah… Amin.

Jumat, 22 Oktober 2010

Belajarlah Dari Matahari

Oleh: DR. Amir Faishol Fath

Anakku, lihatlah matahari itu

Ia tidak pernah berhenti memberikan cahaya
Sekalipun orang-orang tidak mau memujinya
Tidak pernah memberikan penghargaan kepadanya
Ia tetap memberikan pencahayaan
Bayangkan, apa yang akan dialami bumi
Bila matahari tidak mau bercahaya

Anakku, janganlah kau putus asa
Karena besok pagi matahari itu akan terbit kembali
Songsonglah masa depan dengan semangat membara
Tanpa kenal lelah dan pudar
Karena dengannya kau akan menjadi mulia

Anakku, kau lihat matahari itu sangat tinggi
Tetapi ia masih mau membantu bumi
Karenanya, bila engkau kelak sedang di atas
Janganlah lupa kepada yang di bawah
Sebab kau akan semakin tinggi ketika kau selalu merendah

Anakku, matahari itu tidak lupa diri
Sekalipun ia sibuk memberikan cahaya kepada semesta
Ia juga memberikan cahaya pada dirinya
Karenanya janganlah kau menjadi seperti lilin
Yang rela membakar dirinya untuk pencahayaan
Tetapi jadilah seperti matahari
Yang memberikan cahaya bagi orang lain
Juga memberikan cahaya bagi dirinya sendiri.

Washington DC, 2010

Sumber : Dakwatuna.com

Senin, 20 September 2010

Langkah yang Menyuburkan Pohon Takwa

Oleh : Syamsu Hilal

Hati (qalb) manusia,
Itu ibarat lahan tempat bertanam dan jiwa (nafs) adalah petaninya.
Setiap petani bebas menanam apa saja yang disukai dan menguntungkan di lahan miliknya.
Dia bebas menentukan pupuk apa yang akan digunakan agar tanaman tumbuh subur.
Bersamaan dengan itu,
Dia juga bebas menggunakan pestisida apa saja untuk menjaga tanamannya dari gangguan hama dan penyakit.

Demikianlah tamsil manusia dengan amalnya.
Sejak lahir,
Di dalam setiap jiwa manusia, Allah SWT menyimpan dua benih, yaitu :

Benih Fujur (kefasikan) dan Benih Takwa (kebaikan).

Hal ini ditegaskan Allah SWT dalam QS Asy-Syams: 8-10,
"Maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang menyucikan jiwa itu, dan merugilah orang yang mengotorinya".

Petani cerdas tentu saja akan menanam benih takwa di lahan kalbunya dan membiarkan benih fujur tumbuh kerdil dan merana.
Dia akan memupuk benih takwa itu dengan Alquran dan sunah sebagai hara utama.
Lalu menyiraminya dengan air hikmah, berupa ucapan dan perilaku para salafush shalih.

Bersamaan dengan itu,
Dia juga berusaha menjauhi segala bentuk maksiat agar tanaman terhindar dari hama dan penyakit.
"Dan tanah yang subur, tanamannya tumbuh baik dengan izin Allah, sebaliknya tanah yang gesang tanamannya tumbuh kerdil ...." (QS Al-A'raf [7]: 58).

Tanaman seperti inilah yang diumpamakan oleh Allah SWT dalam QS Ibrahim [14]: 24-25.
"Tidakkah engkau perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya menjulang ke langit. Pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan izin Rabbnya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat".

Betapa indah pohon takwa Rasulullah SAW.
Banyak orang melemparinya dengan batu, cacian, dan berbagai fitnah, tapi Rasul SAW selalu membalasnya dengan buah senyum dan kasih sayang.

Begitu pula dengan pohon takwa Abu Bakar Siddiq, Umar bin Khattab, Usman bin Affan, Ali bin Abi Thalib Radliyallahu anhum, dan para sahabat lainnya yang selalu berbuah akhlaqul karimah.
Mereka, generasi pertama Islam yang selalu menjadikan Alquran dan sunah sebagai referensi utama, hingga Aisyah RA menyebut akhlak Rasulullah SAW sebagai Khuluquhul Qur`an (akhlak Rasulullah adalah Alquran).

Bagimana dengan generasi Islam saat ini,
Apa yang menjadi referensi utama mereka dalam berucap dan bertindak?.
Pertanyaan inilah yang harus dijawab oleh para orang tua dan pemimpin Islam saat ini. Wallahua'lam.

Sumber : Republika Online "http://www.republika.co.id/"

Rabu, 15 September 2010

Pilih Senang atau Tenang

Oleh : M Baharun

Senang ataukah tenang yang diinginkan seseorang?,
Menurut Abu Hamid Al-Ghazali, orang yang senang (al-Sa'id) itu belum tentu tenang (al-Nafs al-Mutmainnah).
Misalnya,
Orang yang melakukan korupsi, tentu merasa senang karena mendapatkan harta dengan segera tanpa susah payah, dan dia tinggal menikmatinya saja. Tapi, apakah hati menjadi tenang dengan perolehan harta terlarang yang bukan haknya itu?.

Demikian pula,
Orang yang melakukan perselingkuhan, boleh jadi ia dapat mengenyam kenikmatan sesaat, tetapi apakah hatinya jadi tenang dan tenteram?.
Atau,
Seseorang yang mengonsumsi narkoba, mungkin dia bisa merasa senang dan bahagia untuk sementara. Akan tetapi, apa benar dia tidak dihantui perasaan takut?.

Jika sudah menyadari hal seperti ini,
Mengapa manusia itu berlaku zalim terhadap dirinya sendiri dan hanya mementingkan kenikmatan sesaat.
Padahal,
Mereka berani menanggung risiko ketidaktenangan dan ketidaktenteraman dalam hidupnya.

Kebahagiaan itu kenyataannya tidak bermula pada kesenangan, melainkan berangkat dari ketenangan.
Orang yang memiliki banyak uang pasti senang karena segala kebutuhannya tercukupi, tetapi uang tidak menjamin seseorang mendapatkan ketenangan hidup.

Seringkali kita temukan,
Orang kaya malah jadi bertambah cemas karena takut dan khawatir hartanya berkurang atau habis.
Siapa pun jika mendapatkan jabatan dan kedudukan prestisius menjadi senang, tapi adakah jabatan itu bisa membuat dia tenang dalam hidupnya?. Jawabnya pasti belum tentu! Jika begitu,

Mengapa kita tidak mementingkan ketenangan hidup ketimbang memulai kesenangan hidup?,
Karena ketenangan jiwa, insya Allah akan menghasilkan kesenangan dan kebahagiaan yang hakiki.

Ada adagium dalam dunia tasawuf yang patut untuk direnungkan.
"Lastu Aras Sa'adata Jam'a Malin, Walakin at_Taqiya Lahaiya as-Sa'idu"
(Saya tiada merasa bahagia jika berada dalam kekayaan harta, tapi takwa ini bahagia yang hakiki)

Dalam Alquran,
Banyak sekali ayat yang menerangkan tentang tenang dan manfaatnya.
"Orang tenang (mengikuti petunjuk Alquran) itu mendapat rahmat atau kasih-sayang Allah" (QS 7:204).
"Allah menurunkan ketenangan kepada Rasul-Nya dan orang-orang beriman" (QS 9:26).
"Allah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang Mukmin supaya keimanan bertambah di samping keimanan mereka yang telah ada" (QS 48: 4 dan 18).

Ketenangan jiwa,
Niscaya akan menghilangkan rasa cemas hingga hidup menjadi ringan tanpa beban. Segala penyakit fisik pun akan hilang atau berkurang dengan sendirinya jika jiwa kita menjadi tenang.
Orang yang tenang akan dengan mudah mendapat kesenangan dan kebahagiaan. Sebagai orang yang beriman, sudahlah tentu kita akan memilih hidup tenang dahulu sebelum mendapatkan yang senang.

Rabu, 08 September 2010

Langkah-langkah Penting Menjaga Hati


Oleh : Arif Munandar Riswanto

Hati dalam bahasa Arab disebut dengan al-qalb, yang berarti bolak-balik.
Disebut demikian,
Karena hati adalah dunia abstrak (closed area), unik, dan berkembang (developmental).
Hati gampang berubah, sukar dibaca, senantiasa berkembang, dan pasang-surut.

Karena memiliki sifat seperti itu,
Maka hati harus dijaga dengan baik. Sebab, jika tidak dijaga, hati akan berubah menjadi hati yang sakit (al-qalb al-maridh).
Begitu banyak manusia yang memiliki pikiran cerdas, tetapi akhirnya menjadi orang hina hanya karena memiliki hati yang sakit.

Rasul bersabda,
"Dalam tubuh manusia ada segumpal daging, apabila ia baik, maka baik pula seluruh tubuhnya; dan jika ia rusak, maka rusak pula seluruh tubuhnya. Ketahuilah, itulah hati." (Al-Hadis).

Kecerdasan yang ada di dalam pikiran,
Bisa dikalahkan oleh kebusukan yang ada di dalam hati.
Orang seperti itu biasanya akan marah pada kebenaran dan senang pada kebatilan.
Dan,
Jika hal tersebut terjadi, maka itulah hati sedang sakit.
Sama seperti anggota tubuh lainnya, hati yang sakit bisa dilihat dari tiga hal.

Pertama,
Kemampuan indera yang ada di dalam hati akan hilang secara total.
Hati seperti ini akan menjadi buta, tuli, bisu, dan lumpuh. Ia tidak bisa membedakan antara kebenaran, kesesatan, ketakwaan, kemaksiatan, dan lain sebagainya.

Kedua,
Kemampuan indera yang ada di dalam hati menjadi lemah.
Padahal sebenarnya, kemampuan indera tersebut kuat. Sama seperti anggota tubuh lainnya, jika sedang dalam keadaan seperti ini, hati berarti butuh asupan gizi.

Ketiga,
Hati tidak bisa melihat sesuatu dalam bentuk yang sebenarnya.
Seperti melihat kebenaran menjadi kesesatan, kesesatan menjadi kebenaran, merasakan manis menjadi pahit, dan pahit menjadi manis.

Lalu,
Bagaimana menjaga hati agar tetap sehat?,
Ibnul Qayyim menjelaskan, agar hati bisa tetap sehat, ia bisa dilakukan dengan tiga cara;
menjaga kekuatan hati, melindungi hati dari hal-hal yang membahayakan, dan membuang zat-zat yang berbahaya bagi hati.

Kekuatan hati bisa didapatkan dengan iman.
Dan iman merupakan sumber kekuatan hati paling utama. Jika iman hilang, hati akan menjadi sakit.

Sedangkan untuk melindungi hati dari hal-hal yang membahayakan,
Bisa dilakukan dengan menjauhkan diri dari perbuatan dosa dan maksiat. Sebab,
Kedua hal ini yang dapat membuat hati menjadi sakit. Ia sama dengan racun yang jika dikonsumsi pasti akan membahayakan tubuh.

Terakhir,
Agar tetap sehat, zat-zat yang membahayakan hati harus dibuang.
Dan,
Cara paling efektif untuk membuang zat-zat yang berbahaya tersebut adalah dengan tobat dan istighfar.
Tobat dan istighfar adalah dua obat yang bisa membuang toksin di dalam hati. Ia bagaikan antibody yang bisa membuat hati tetap sehat.

Sumber : Republika Online "
http://www.republika.co.id/"

Rabu, 01 September 2010

WE NEED YOUR PARTICIPATION !!!

Assalammu'alaikum wr.wb

mbak-mbak, mas-mas, dan teman-teman semua, kami dari bidang Me-Kom kamiba butuh partisipasi kalian dalam rangka pembuatan buletin kedua kamiba. buletin yang kedua ini insya allah bekerja sama dengan ROHIS SMA N 1 Godean.

Nah, bagi yang pengen menyumbang tulisan, artikel, puisi, cerpen, opini, kirim-kirim salam, kritik dan saran, de el el, silahkan kirim ke alamat e-mail kami : kamiba.smago@yahoo.com
atau silahkan hubungi :
Anida : 085878757507
Kiky : 08562561730

paling lambat tanggal 13 september 2010 yaa..

hatur nuhun atas perhatiannya..
mari tetap semangat !!! :)